Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Dieng Plateau

 Wonosobo adalah kotaku. Di kotaku, wisata yang terkenal adalah Dataran Tinggi Dieng .Dieng Plateau atau daratan tinggi Dieng berada pada ketinggian 293m.dpl,, terletak antara 2 daerahkabupaten Banjarnegara & Wonosobo. Pemandangan di dataran tinngi Dieng sangat indah sejak dahulu tempat ini sudah menjadi kawasan pengembangan budaya Wonosobo.
Nama Dieng berasal dari kata diyang atau dihyang. Artinya tempat Hyang/ Dewa. Dewa Hyang sendiri artinya "arwah leluhur". Sama artinya dengan tempat para dewa yang bagaikan nirwana. Dataran Tinggi Dieng kerap kali diselimuti oleh awan putih yang melingkari gunung-gunung. Hampir setiap tahun antara bulan Juli & Agustus terjadi hujan es. Orang didaerah tersebut menyebutnya BUN UPAS (bun = embun, upas = racun). Disebut demikian, karena karena hujan es tersebut merusak atau melayukan tanaman pertanian. Temperatur saat itu biasanya berkisar sekitar -2 drajat sampai -3 drajat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kupat Tahu Bandung

Kupat Tahu merupakan makanan khas daerah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di daerah Jawa barat.Kupat Tahu Bandung merupakan Kupat Tahu yang memiliki rasa istimewa dengan rasa Tahu Bandung yang spesial dan racikan bumbu kacang yang gurih memberi cita rasa yang luar biasa. Nah.. ini ada cara-cara untuk membuat Kupat Tahu Bandung. Selamat Mencoba!
Bahan :
• 2 buah tahu kuning bandung, goreng, potong2 kecil.
• 100 gr toge, siram air panas
• 4 buah ketupat, potong-potong
• 150 gr kacang tanah, goreng, haluskan
• 350 ml air
• 5 sdt air asam (dari 2 sdt asam + 5 sdt air)
*tahunya saya ganti pake tahu sun-yi
Bumbu Halus:
• 4 buah cabe merah
• 2 siung bawang putih
• 1/2 sdt terasi
• 4-1/2 sdt gula merah
• 1-1/2 sdt garam

Pelengkap:
• bawang goreng untuk taburan
• kecap manis
• kerupuk
Cara Mengolah :
• Untuk saus, aduk rata bumbu halus, kacang tanah, air dan air asam jawa.
• Masak sampai mendidih dan berminyak. Angkat.
• Tata potongan ketupat, potongan tahu dan touge. Siram atasnya dgn saus kacang dan kecap manis. Taburi bawang goreng dan sajikan dgn kerupuk.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Karapan Sapi


Bagi masyarakat Madura, karapan sapi bukan sekadar sebuah pesta rakyat yang perayaannya digelar setiap tahun. Karapan sapi juga bukan hanya sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan yang akan mengangkat martabat di masyarakat.
Sejarah asal mula Kerapan Sapi tidak ada yang tahu persis, namun berdasarkan sumber lisan yang diwariskan secara turun temurun diketahui bahwa Kerapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep pada abad 13.
Awalnya ingin memanfaatkan tenaga sapi sebagai pengolah sawah. Brangkat dari ketekunan bagaimana cara membajak sapinya bekerja ,mengolah tanah persawahan, ternyata berhasil dan tanah tandus pun berubah menjadi tanah subur.
Melihat gagasan bagus dan membawa hasil positif, tentu saja warga masyarakat desa mengikuti jejak Pangerannya. Akhirnya tanah di seluruh Pulau Sapudi yang semula gersang, menjadi tanah subur yang bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah dan jadilah daerah yang subur makmur.
Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Ketandur mempunyai inisiatif mengajak warga di desanya untuk mengadakan balapan sapi. Areal tanah sawah yang sudah dipanen dimanfaatkan untuk areal balapan sapi. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur itulah yang hingga kini terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Hanya namanya diganti lebih populer dengan “Kerapan Sapi”.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan Sapi selain sebagai tradisi juga sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Kerapan sebagai pesta rakyat di Madura mempunyai peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi (kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan), peran magis religius (misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu), bidang seni rupa (ada pada peralatan yang mempunyai hiasan tertentu), bidang seni tari dan seni musik saronen (selalu berubah dan berkembang).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Angklung Indonesia

Angklung adalah mitologi dari Bahasa Bali, yaitu Ang yang berarti angka (berupa not) dan klung yang berarti rusak. Jadi, jika digabungkan angklung berarti angka yang rusak.


Dalam sejarah perkembangan musik Angklung, bentuknya yang sekarang merupakan adaptasi bentuk alat musik dari Filipina.

Perkembangan musik angklung pada mulanya yaitu berasal dari bambu wulung (wulung awi) yang dimainkan dengan cara dipukul-pukul. Permainan bambu tersebut bermula untuk menghormati binatang totem dan untuk menghormati dan menghargai pemberian hasil panen padi yang banyak dan baik dari Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi yang memberikan kesejahteraan.

Dalam perkembangannya musik angklung perlahan mulai berubah dan beradaptasi dengan perkembangan jamannya. Mulai dari jaman dimana manusia memanfaatkan bambu sebagai alat utama mereka untuk bertahan hidup, masuknya budaya China, penyiaran agama Islam, masuknya budaya barat ke Indonesia, sampai pada jaman modern ini.
Pada masa modern ini, perkembangan musik angklung mulai berubah. Itu berawal dari Daeng Sutisna yang berhasil mengubah tangga nada petatonis menjadi diatonis (do,re,mi,fa,sol,la,si,do) pada tahun 1983. Dan perkembangan itu pun terjadi, misalnya pada KTT Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat. Musik Angklung modern dimainkan untuk acara resmi dalam Indonesia Ultimate Diversity tersebut, yaitu dalam lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu daerah yang terkenal seperti Rasa Sayange, Ayo Mama, Burung Kakak Tua dan Bebek Angsa.

Pada jaman yang modern ini pula, kita masih dapat bersuka cita merasakan uniknya musik angklung di suatu saung angklung yaitu Saung Angklung Udjo (SAU) D i Bandung, Jawa Barat, tepatnya di Jl. Padasuka 118 Bandung. Saung Angklung Udjo, merupakan angsana singgasana angklung terbesar di dunia yang merupakan mahakarya dari Udjo Ngalagena, yang dibangun pada tahun 1961.

Angklung yang terbuat dari bambu hitam (wulung) tersebut merupakan angklung bertangga nada diatonis yang dapat memainkan melodi lagu-lagu tradisional maupun modern, serta dapat mengiringi melodi-melodi lagu tersebut.

Jadi, berbanggalah kita sebagai orang Indonesia yang memiliki maha karya yang dibuat bukan dari jiplakan melainkan, dari perjuangan nenek moyang kita dalam berkesenian dan menciptakan suatu kesenian tersebut. Apalagi, sekarang angklung merupakan alat musik yang universal dikalangan negara-negara se- Asia Tenggara, Asia Timur bahkan Amerika Serikat. Jadi, kita musti tahu diri, dan wajib berterima kasih pada pendahulu angklung dengan cara melestarikan musik tersebut dalam kehidupan kita sekarang ini, jangan sampai nenek moyang kita menangis melihat buah karyanya diambil orang lain secara ilegal dan dilipakan secara mentah oleh anak cucunya sendiri. Jangan sampai angklunmg kalah dengan alat-alat musik modern, alat band dan lain-lain. Angklung uga bisa modern loh, seperti mereka, dengn memainkannya bersama, kompak, dengan melodi dan struktur komposisi nada yang indah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gejlog Lesung



Kabupaten Bantul memang kaya akan kesenian tradisional. Sejumlah seni tradisional bahkan melekat pada berbagai upacara ritual yang terus dikembangkan oleh masyarakat setempat. Seperti upacara Merti Deso, Labuhan, Jaladri dan sebagainya.

Salah satu seni tradisional yang berkembang seiring dengan ungkapan syukur atas melimpahnya panen padi, adalah seni Gejog Lesung. Bila kita hanya mendengar dari kejauhan suara :”thok – thek – thok – thok – thek – thok – dug”. Itu adalah suara alu atau alat dari kayu yang dipukul-pukulkan secara teratur pada kayu besar yang dibuat seperti perahu, yang dinamai lesung. Pada umumnya, lesung dibuat dari kayu nangka atau munggur. Kalaupun masih ada yang memiliki lesung, usianya rata-rata di atas 30 tahun.

Lesung, tempo doeloe digunakan oleh rakyat desa untuk memisahkan padi dari tangkai-tangkainya, setelah panen raya tiba. Caranya, padi kering dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk dengan alu secara berirama. Setelah jaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena dinilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak.

Kini, lesung tetap dilestarikan sebagai seni tradisional. Suara alu yang dipukul-pukulkan pada lesung secara berirama itulah letak seninya. Penabuhnya sekitar lima sampai enam orang. Untuk memunculkan variasi suasana, kini suara lesung dipadukan dengan nyanyian tradisonal, yang dibawakan secara grup. Ada sekelompok orang yang nembang atau menyanyi sambil lenggak-lenggok menari; ada pula kelompok yang lain menari, meliak-liukkan tubuhnya sambil sekali-kali berputar-putar; sebagaimana layaknya menari dengan iringan gamelan lengkap.

Untuk melestarikan seni yang berhubungan dengan panen ini, Pemerintah Kabupaten Bantul mengemasnya sebagai paket wisata. Tempatnyapun sangat menunjang, yakni di Pasar Seni gabusan, dalam bentuk Lomba Gejog Lesung, antar kecamatan. Lomba Gejog Lesung ini berlangsung tanggal 11 dan 12 Desember 2004, dengan peringatan Hari Nusantara ke-5 yang dipusatkan di Kabupaten Bantul.

Karena bersifat lomba, maka penampilannya sungguh menarik. Pakaian warna-warni dikenakan para peserta. Yang cukup membangggakan adalah, hampir setiap grup memunculkan peserta dari tiga generasi, yakni generasi tua, setengah tua dan muda. Lengkap sudah fungsi pasar seni gabusan. Ya menjual kerajinan rakyat Bantul,ya melestarikan seni tradisional. Bravo buat Pak Idham Samawi, yang telah berani membangun pasar seni bernilai miliaran rupiah itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Api Purba Nglanggeran

Berikut ini cuplikan video berwisata ke gununng Nglanggeran ::

Gunung Api Purba NglanggeranGunung Nglanggeran adalah sebuah gunung api purba berumur sekitar 60 juta tahun yang terletak di kawasan Baturagung, bagian utara Kabupaten Gunung Kidul pada ketinggian sekitar 200-700 mdpl.

Teletak di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, tempat wisata ini dapat ditempuh sekitar 15 menit atau sekitar 22 km dari kota Wonosari.

Kawasan ini konon merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan yang secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Berdasarkan hasil sejumlah penelitian dan referensi, gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba, yang keberadaanya jauh sebelum terbentuknya Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.

Mendaki Gunung Nglanggeran, Anda akan menjumpai sebauh bangunan Joglo (Pendopo Joglo Kalisong) di pintu masuk, dan akan ada tiga bangunan gardu pandang sederhana dari ketinggian yang rendah, sedang sampai puncak gunung.

Dari atas gunung, pemandangan terhampar luas bak permadani hijau. Kala kita memandang ke bawah, kita bisa melihat ladang, kebun, dan bangunan tower dan berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, manambah keindahan alam.

Nama Nglanggeran konon berasal dari kata planggaran yang bermakna setiap perilaku jahat pasti ketahuan. Ada pula yang menuturkan, nama bukit berketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dengan kata langgeng artinya desa yang aman dan tentram.

Selain sebutan tersebut, gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini dikenal dengan nama Gunung Wayang karena terdapat gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijaya dan Punakawan. Punakawan dalam tokoh pewayangan tersebut, yakni Semar, Gareng, Petruk, serta Bagong.

Kepercayaan lain menyebutkan bahwa Gunung Nglanggeran sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sebagai sarana meditasi memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa. Air dari gunung Nglanggeran sering diambil abdi dalem dari Kraton Yogyakarta sebagai sarana mohon ketentraman dan keselamatan semua masyarakat DIY. Tak heran, sebagian orang masih mengeramatkan gunung tersebut. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semedi di puncak gunung ini.  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS